Ikat Ilmu dengan Tulisan


Ada beberapa adab majelis ilmu yang mungkin sudah kita lupakan dan lalaikan, yaitu berusaha mencatat ilmu tersebut. Seringnya kita datang ke majelis ilmu dengan niat yang kurang ikhlas, datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil santai-santai, itupun tidak serius, ada yang sambil bermain HP, ada yang sambil bersandar di posisi paling belakang dan adab yang tidak selayaknya ada di majelis ilmu yang mulia serta di doakan oleh para malaikat. Bahkan ada yang niatnya kurang baik yaitu majelis ilmu dengan tujuan utama ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya berdagang saja. Semoga niat ini bisa diperbaiki agar mendapatkan keberkahan ilmu dengan adab majelis yang benar.
 
Anjuran mencatat ilmu
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
 
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya”1
 
Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabatnya agar menulis ilmu. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru. Beliau bersabda kepadanya:
 
“Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran”2
 
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
 
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
 
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
 
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
 
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja3
 
Sampai-sampai Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,
 
“Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding”4
 
Mencatat ilmu agar tidak mudah lupa
Daya ingat manusia lemah dan terbatas, karenanya kita dianjurkan agar mencatat ilmu. Dengan mencatat ilmu ketika di majelis, maka kita berusaha merangkum apa yang didengar dan mencatatnya. Ini membuat lebih fokus ketika mengikuti majelis ilmu dan membuat ingatan lebih kokoh dan yang lebih penting sikap ini menunjukkan perhatian kita terhadap ilmu serta memulia ilmu agama yang berkah ini.
 
Tafsir surat Al-Alaq yaitu agar kita mencatat ilmu agar tidak mudah lupa, yaitu membaca dari tulisan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
 
“kita katakan, iya. Lupa ada obatnya –dengan karunia dari Allah- yaitu menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surat Al-Alaq. Yaitu “iqra’” kemudian “mengajarkan dengan perantara pena”. Maksudnya, bacalah dengan hapalannya, jika tidak hapal maka dengan tulisanmu.
 
Allah Tabaraka Ta’ala menjelaskan kepada kita bagaimana mengobati penyakit ini yaitu penyakit lupa dan kita obati dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibanding dahulu karena mudah didapatkan dan segala puji bagi Allah, sekarang bisa direkam.”5
 
Ikat juga ilmu dengan amal
Di zaman sekarang di mana sarana tulis-menulis dan kemudahan copy-paste serta sarana sosial media internet, maka mencata dan menyalin cukup mudah, karenanya ada ungkapan,
 
“ikatlah ilmu dengan mengamalkannya”
 
Ilmu lebih layak diikat dengan amal karena ilmu yang telah diikat dikitab-kitab telah banyak dilupakan. Apalagi di zaman ini kita sangat butuh terhadap amal, contoh akhlak mulia bagi masyarakat.
 
___
 
1 Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026
 
2 HR. Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, shahih
 
3 Diwan Syafi’I hal. 103
 
4 Al-‘Ilmu no. 146 oleh Abu Khaitsamah
 
5 Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin
Ada beberapa adab majelis ilmu yang mungkin sudah kita lupakan dan lalaikan, yaitu berusaha mencatat ilmu tersebut. Seringnya kita datang ke majelis ilmu dengan niat yang kurang ikhlas, datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil santai-santai, itupun tidak serius, ada yang sambil bermain HP, ada yang sambil bersandar di posisi paling belakang dan adab yang tidak selayaknya ada di majelis ilmu yang mulia serta di doakan oleh para malaikat. Bahkan ada yang niatnya kurang baik yaitu majelis ilmu dengan tujuan utama ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya berdagang saja. Semoga niat ini bisa diperbaiki agar mendapatkan keberkahan ilmu dengan adab majelis yang benar.
 
Anjuran mencatat ilmu
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
 
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya”1
 
Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabatnya agar menulis ilmu. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru. Beliau bersabda kepadanya:
 
“Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran”2
 
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
 
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
 
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
 
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
 
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja3
 
Sampai-sampai Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,
 
“Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding”4
 
Mencatat ilmu agar tidak mudah lupa
Daya ingat manusia lemah dan terbatas, karenanya kita dianjurkan agar mencatat ilmu. Dengan mencatat ilmu ketika di majelis, maka kita berusaha merangkum apa yang didengar dan mencatatnya. Ini membuat lebih fokus ketika mengikuti majelis ilmu dan membuat ingatan lebih kokoh dan yang lebih penting sikap ini menunjukkan perhatian kita terhadap ilmu serta memulia ilmu agama yang berkah ini.
 
Tafsir surat Al-Alaq yaitu agar kita mencatat ilmu agar tidak mudah lupa, yaitu membaca dari tulisan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
 
“kita katakan, iya. Lupa ada obatnya –dengan karunia dari Allah- yaitu menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surat Al-Alaq. Yaitu “iqra’” kemudian “mengajarkan dengan perantara pena”. Maksudnya, bacalah dengan hapalannya, jika tidak hapal maka dengan tulisanmu.
 
Allah Tabaraka Ta’ala menjelaskan kepada kita bagaimana mengobati penyakit ini yaitu penyakit lupa dan kita obati dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibanding dahulu karena mudah didapatkan dan segala puji bagi Allah, sekarang bisa direkam.”5
 
Ikat juga ilmu dengan amal
Di zaman sekarang di mana sarana tulis-menulis dan kemudahan copy-paste serta sarana sosial media internet, maka mencata dan menyalin cukup mudah, karenanya ada ungkapan,
 
“ikatlah ilmu dengan mengamalkannya”
 
Ilmu lebih layak diikat dengan amal karena ilmu yang telah diikat dikitab-kitab telah banyak dilupakan. Apalagi di zaman ini kita sangat butuh terhadap amal, contoh akhlak mulia bagi masyarakat.
 
___
 
1 Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026
 
2 HR. Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, shahih
 
3 Diwan Syafi’I hal. 103
 
4 Al-‘Ilmu no. 146 oleh Abu Khaitsamah
 
5 Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin
Menggapai berkah menuju Baitullah bersama HJTours
Informasi : 
0813 8354 2001
0818 0860 8308
0812 9036 517

Share:

5 PASTI UMROH

5 PASTI UMROH
Sumber : Kemenag RI

Promo Akhir Tahun Umroh Bersama HJ Tours 4 November 2019

Umroh Berkah 2019 Sembilan Hari Perjalanan Alhamdulillah kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT dan sholawat dan salam...

Label

Jumlah Pengunjung Website